RSS

3 Golongan Jenis Charter Kapal

Sewa menyewa ruang kapal dalam bentuk perjanjian dapat dibagi dalam 3 golongan jenis charter sebagai berikut :

  1. Bareboat Charter atau Demise Charter
  2. Time Charter
  3. Trip Time Charter
  4. Voyage Charter atau Space Charter

 

Namun apabila ditinjau secara rinci ketiga jenis charter tersebut, masih dapat diuraikan sebagai berikut :

Bareboat Charter atau Demise Charter (Penyerahan Milik) Bareboat Charter adalah penyewaan kapal tanpa Nakhoda dan Anak Buah Kapal (ABK). Jadi Charter harus melengkapi sendiri Nakhoda dan ABK tersebut, walaupun demikian kapal masih dalam kondisi laik laut (Sea Worthy). Harga sewa (Charter Free) jenis charter ini berdasarkan kepada setiap ton bobot mati musim panas (Summer Deadweight Capacity) dan harus dibayar dimuka untuk setiap bulan (satu jenis dengan Time Charter). Semua biaya ekspoloitasi kapal ditanggung oleh Charter, termasuk biaya repair dan survey kapal yang dilaksanakan secara periodik.

Namun demikian charterer wajib mengembalikan kapal setelah habis/selesai kontrak, sesuai dengan keadaan semula, kecuali karena terjadi keausan normal. Mengenai masalah asuransi kapal, juga menjadi tanggungan Charterer, kecuali sewaktu negosiasi disepakati dalam Charter Party (C/P) bahwa biaya asuransi kapal (Polis Asuransi) menjadi tanggungan Ship Owner. Selama tegang waktu (Time Period) Bareboad Charter tersebut masih berlaku, Charterer boleh menyewakan  kembali (recharter/sublet charter) kepada pihak ketiga dan dalam hal ini dia bertindak sebagai Ship Owner dan disebut Disponet Owners.

Pihak ketiga tidak bertanggung jawab kepada pemilik kapal asli. Dia hanya bertanggung jawab kepada Dispnent Owner dan Ship Owner asli menerima tanggung jawab hanya dari Disponent Owner saja. Meskipun kapal boleh disewakan kepada pihak ketiga atau digunakan sendiri oleh Charterer, masing-masing pihak harus mematuhi suatu ketentuan, yaitu “Kapal hanya dapat digunakan untuk pelayaran yang sah dan untuk mengangkut barang-barang (muatan) yang sah pula (the vessel will be employed in lawful trade in carrying lawfull merchandise).

Jika ketentuan ini dilanggar, misalnya oleh Charterer digunakan mengangkut barang terlarang/gelap (Contrabande), maka segala konsekwensi atas kapal tersebut, menjadi tanggungan dan beban Charterer. Misalnya kapal disita oleh petugas setempat. Charterer harus membayar ganti rugi kepada Ship Owner atas kapal yang disita tersebut. Dalam keadaan normal Bareboad Charter jarang dipergunakan.

Time Charter Dalam charter waktu ini, ship owner memberikan kebebasan kepada Charterer untuk menggunakan kapalnya dan berlayar selama jangka waktu tertentu yang telah disepakati dalam C/P. Misalnya selam 6 bulan, satu tahun, dua tahun dan ada kalanya sampai sepuluh tahun. Pada jenis charter ini, Nakhoda dan ABK disediakan oleh Ship Owner  semua biaya-biaya Nakhoda dan ABK, reparasi (Floating Repair), minyak pelumas, survey kapal dan asuransi menjadi tanggungan Ship Owner.

Sedangkan biaya-biaya bahan bakar minyak (BBM), disbursement di pelabuhan, bongkar muat (Stevedoring), air ketel (khusus untuk kapal uap), air minum (tawar) dan lain-lain biaya ekspoloitasi, menjadi beban Charterer. Kecuali jika tidak diatur dalam C/P biaya-biaya air minum untuk Nakhoda dan ABK ditanggung oleh Ship Owner. Sewa Charter (Charter Fee) dalam Time Charter tidak tertanggung dari banyaknya barang yang diangkut, tetapi didasarkan kepada waktu, yaitu : “Sewa tiap ton bobot mati kapal waktu musim panas (Summer Deadweight Capacity) dan harus dibayar pada setiap bulan.

Trip Time Charter Bilamana kapal dicharter untuk satu kali atau lebih pelayaran, tetapi charter fee berdasarkan kepad waktu, maka jenis carter seperti ini disebut Trip Time Charter. Charter dapat menjadi Carrier atas barang-barang pihak ketiga dan dapat pula  menyewakan kapal yang disewanya kepada pihak ketiga (Recharter/Sublet Charter), baik secara Time Charter atau Voyage Charter. Sebagaimana ketentuan yang berlaku untuk Bareboat Charter, juga dalam Time Charter dan Trip Time Charter berlaku ketentuan “lawfull trade in carrying lawfull merchandise”, artinya kapal boleh dipergunakan untuk pelayaran yang sah dan untuk mengangkut barang yang sah pula.

Voyage Charter/Space Charter/Deadweight Charter Merupakan suatu persetujuan charter antara Pemilik/Pengusaha Kapal dan Pencharter (Charterer). Kapal lengkap dengan Nakhoda dan ABK untuk satu kali/lebih pelayaran. Besar charter fee dihitung dari banyaknya muatan yang diangkut sebagaimana dijanjikan, sehingga sewa kapal sama dengan uang tambang (Sen Freight). Jenis charter ini disebut juga space/deadweigtht charter, karena sewa kapal berdasarkan kepada banyaknya barang yang diangkut. Tetapi banyak barang telah lebih dahulu dijanjikan. Dengan demikian Charterer bertindak sebagai Carrier (Disponent Owner). Trayek yang dilayari oleh Pemilik/Pengusaha Kapal harus sesuai sebagaimana ditetapkan pada  C/P (Charter Party). Pada jenis charter ini apakah ruang kapal dipakai  seluruh atau tidak, Ship Owner tetap dibayar sewa kapalnya sebagaimana tetap dijanjikan oleh Charterer.

  • Trip Voyage Charter Bila kapal disewa secara charter untuk pelayaran dari satu/beberapa Pelabuhan Pemuatan (Loading Port) kesatu/beberapa Pelabuhan Pembongkaran (Discharging Port), tetapi hanya untuk satu trip dan sewa kapal didasarkan kepada banyaknya barang yang dijanjikan, jenis charter seperti ini disebut Trip Voyage Charter. Charter dalam bentuk Voyage Charter dan Trip Voyage Charter dapat bertindak sebagai Carrier atas barang-barang pihak ketiga sebagai Disponent Owner, dapat pula menyewakan kapal tersebut kepada pihak ketiga, tetapi hanya untuk trayek yang disebut didalam C/P. Pada umumnya jenis voyage charter digunakan oleh Pengusaha dalam transaksi jual beli barang Antar Pulau (Interisland/Interinsuler) di Dalam Negeri. Dapat pula digunakan untuk Pelayaran Antar Negara (Ocean Going) yang transaksi jual beli komoditi berdasarkan Free On Board (F.O.B) Cost & Freight (C & F) atau Cost Insurance & Freight (C.I.F)
  • Berth Charter dipergunakan jika tidak dapat ditentukan  dengan pasti jenis dan banyaknya koli barang yang akan diangkut. Jenis dan bayaknya koli disebut sewaktu kapal dilayari didermaga (on the berth), yaitu pada waktu pemuatan berlangsung. Bilamana Charter tidak berhasil mengisi ruang kapal sesuai yang dijanjikan, maka dia dikenakan deadfreight. Dalam prakteknya Berth Charter Jarang digunakan.
  • Deadweight Charter Tidak ada bedanya dengan Voyage Charter. Apakah Charterer berhasil mengisi ruangan kapal hingga sarat (full and down) atau tidak, sewa charter tetap  sebesar yang telah dijanjikan.
  • Gross Charter Untuk jenis charter ini, didalam C/P ditetapkan, bahwa semua biaya kapal dipelabuhan, termasuk disbursement account, biaya B/M (Stevedoring), tally dan sebagainya, menjadi beban Ship Owner. Namun biaya-biaya tersebut oleh Ship Owner akan diperhitungkan dalam waktu menentukan besarnya Charter Fee.
  • Net Charter Jenis charter ini merupakan kebalikan dari Gross Charter, yaitu biaya-biaya sebagaimana dijelaskan pada Gross Charter tersebut diatas menjadi beban Charterer. Biaya-biaya yang menjadi beban Ship Owner hanyalah biaya tetap kapal (Fix Cost) dan bunker (BBM).
  • Clean Charter Pada charter ini, pemilik kapal hanya memikul komisi untuk Chartering Brokers (Brokerage) dan tidak dibebani komisi-komisi lain. Misalnya Address Commission. Address Commission meupakan suatu Return Commission yang diberikan oleh Ship Owner kepada Charterer atas uang tambang (sea freight) yang dibayarnya. Jadi merupakan rabat atau potongan atau discount yang yang besarnya + 2.5 % dari uang tambang bersih. Dalam transaksi pembelian barang atas dasar F.O.B pembeli merupakan Charterer, sehingga dialah yang menerima komisi tersebut. Sedangkan bila atas dasar C & F atau C.I.F Penjual yang merupakan charterer, sehingga dialah yang berhak  menerima komisi tersebut. Namun apabila dalam C/P dipergunakan syarat “Free Of Address” maka Ship Owner tidak membayar address commision kepada Charterer.
  • Lumpsum Charter Pada jenis charter ini, perhitungan besarnya charter fee ditentukan sebagai berikut :
    • Charterer menyewa seluruh atau sebagian ruang kapal sesuai yang dijanjikan dengan sewa sejumlah uang tertentu, yang merupakan jumlah uang tetap (Lumpsum). Apakah ruang kapal tersebut diisi penuh atau tidak oleh Charterer, charter fee untuk ship owner tetap diterima sesuai besar jumlah uang yang telah dijanjikan dalam C/P.
    • Bentuk Lumpsum Charter ini sering digunakan oleh Perusahaan Pelayaran dalam Liner Service, jika pada suatu ketika tonage kapal tidak mencukupi untuk memenuhi order dari Pelanggannya atau tidak memenuhi pengangkutan barang-barang yang tersedia dalam trayek yang dilayaninya.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on November 14, 2016 in Kapal

 

Tags: , , , , , , ,

Send Free SMS To Satellite Phones

You can send SMS messages to most satellite phones using the links below:

 
Leave a comment

Posted by on February 18, 2016 in Teknologi Informatika

 

Turing Vespa Modern Bandung

Turing merupakan salah satu hobbi yang dijalani oleh penghobby motor. kebetulan saya penyuka vespa modern, dikarenakan agak simpell dalam perawatannya. hihihihi. Tanggal 1 kemaren ane dan kawan2 turing ke bandung sekitar 8 orang.

Day 1.
Meeting Point di Citos Jam 5:00 lanjut gas ke bandung, konkow dan nginep

Day 2. Persiapan pulang ke jakarta

Dilema Touring :

  1. Banyak tujuan yg tetapi waktu tidak mencukupi.
  2. Kerusakan dan kelelahan pada peserta
 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Simpel dan Oke Punya

https://www.facebook.com/mrtintumon/videos/10153139302758676/

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2015 in Uncategorized

 

APAKAH PEMBERLAKUAN ISM-CODE AKAN MENJAMIN KESELAMATAN ? JELASKAN

1.Apakah pemberlakuan ISM-Code akan menjamin keselamatan ? Jelaskan

Jawab:

Pemberlakuan ISM merupakan suatu usaha untuk menekan sekecil mungkinterjadinya kecelakaan di atas kapal yg dapat menimbulkan ancaman terhadap keselamatan jiwa, kapal, harta benda dan pencemaran lingkungan.keberhasilan usaha ini tergantung pula dengan personil personil yang terkait dgn ISM.bagaimana pengimplemantasian ISM bagi pemerintah,perusahaan,nahkoda & ABK,Negara yang dituju.

2. Sebutkan keuntungan memberlakukan ISM-Code ?
Jawab:
a. keuntungan pemberlakuan ISM bagi perusahaan
1. meningkatkan kesadran akan keselamatan dan ketrampilan personil management keselamatan.
2. pembentukan budaya keselamatan yg mendorong peningktan secara terus menerus dlm keselamatan yg mendorong peningkatan secra terus menerus dlm keselamatan dan perlindungan lingkungan.
3. kepercayaan klien yg lebih besar.
4. meningkatan ketahanan mental perusahaan.

b. keuntungan memberlakuakan ISM bagi pelaut ( terutama nahkoda )
1. meningkatkan kesadaran nahkoda,& ABK terhadap keselamatan kapal & lingkungan sekitar.
2. menambah kepercayaan perusahaan thd nahkoda dan ABK.
3. menjadikan kapal sebagai tempat bekerja yg aman bagi pelaut
4. mengurangi angka kecelakaan dan pencemaran lingkungan.

3. Apakah yang disebut Internal Audit.
Jawab:
Internal audit adalah: pemerikasaan secara sistematik dan berdiri sendiri untuk menentukan apakah kegiatan SMS berfungsi dengan baik dan sesuai dengan apa yg diharapkan, pemerikasaan ini dilakukan oleh DPA sedangkan hasil- hasilnya dievaluasi untuk perbaikan selanjutnya.

4. Kalau pada audit ditemukan ketidak sesuaian ( non conformity ), ketidak sesuaian ini terhadap apakah ?
Jawab:
adalah situasi yg diobservasidimana bukti yg objektif menunjukkan kondisi yg tdk memenuhi persyaratan yg ditetapkan terhadap peraturan keselamatan antara lain
-SOLAS 74, COLREG 72, MARPOL 73/78, LOAD LINE 1966, ILO 147,SCTW 78/95,ISM CODE,LSA CODE, ISPS CODE, HSP CODE.

5. Apakah yang disebut perusahaan dalam ISM-Code ?
Jawab:
Berarti pemilik kapal atausetiap organisasi lain, sesesorang seperti manager, atau pencarter kapal polos ( bare boath ) , yg mengambil tanggung jawab dlm pengoperasian kapal dari pemilik kapal.dimana pada pengambilan tanggung jwb tsb setuju untuk mengambil alih semua tugas dan tanggung jwb yag dibebankan dlm ISM CODE.

6. Apakah tuntutan ISM-COde mengenai kemampuan awak kapal ?
Jawab:
Tuntutan ISM thd kemampuan awak kapal, awak kapal harus sesuai dengan standart stcw 95 Sesuai dgn elemen 6
1.Sertificat awak kapal hrs memenuhi persyaratansesuai yg diminta oleh safe manning certificate.
2.setiap kapal diawaki oleh pelaut- pelaut yg memenuhi syarat, bersetifikat,dan scara medis fit sesuai dgn persyaratan nasional dan internasional.
3. master dan officer memahami SMS dan rencana penerapannya diatas kapal.
4. kepada ABK baru diberikan familirisasi yg cukup terhadap tugas- tugasnya
5. ABK harus mampu berkomunikasi secara efektif yg berkaitan dgn SMS.

7. Berapa tahunkan berlakunya DOC (documen of compliance )
Jawab:
3 tahun

8. Sebutkan sertifikat-sertifikat yang berkaitan dengan ISM-Code dan sebutkan kaitannya satu sama lain.
Jawab:
Sertifikat diatas kapal Sesuai dg jenis kapalnya al:
1. semua jenis kapal
2. kapal barang
3. kapal curah muatan kimiayg beracun ,Kapal tanki kimia, Kapal pengangkut gas.Antara certificate itu adalah
Certificate of registry
Classifications society certificate for hull and machinery
International tonnage certificate
Loading certificate
International load line
Exemption certificate
Safe manning doc
Certificates for cargo handling gear
Derating or derating exemption certificate
Medicine chest certificate
IOPP cert
Oil record book
Dll
Kaitannya satu dgn yg lain document yang ada diatas kapal harus ada dan up to date. Sehingga SMS perusahaan dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan ISM.

9. Apakah yang dimaksud dengan kesiapan darurat ?
Jawab:
Kesiapan darurat adalah prosedur keselamatan yang dibuat oleh perusahaan untuk menanggulangi keadaan mara bahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa, kapal dan lingkungan sekitar ( pencemaran ) yang mencakup :
– prosedur utk mengenal & menjelaskan & tanggap atas keadaan darurat yg terjadi di atas kpl.
– praktek & latihan guna persiapan tindakan darurat.
menyiapkan alat ukur utk memastikan bahwa organisasi persh dpt tanggap setiap saat thd keadaan darurat.
Contoh keadaan darurat: kebakaran, kapal tenggelam, ornag jatuh kelaut, kapal tenggelam, pencemaran dll

10. Dalam menyiapkan kapal untuk diperiksa (audit), selain dokumen kapal dan SMS, apa saja yang saudara persiapkan sebagai Nakhoda ?
JAWAB:
– Menyiapkan inventory list : alat penolong, alat pemadam, alat navigasi, chart dan publication book yang up to date
– Menyiapkan night order dan standing order
– Meyakinkan bahwa setiap crew mengerti dan terlatih dalam mengoperasikan peralatan yang ada diatas kapal
– Alat-alat keselamatan senantiasa siap untuk digunakan

11. Sebutkan denah / sijil kesiapan darurat yang ada di kapal 
Jawab :
– Sijil kebakaran ( fire drill )
– Sijil meninggalkan kapal ( abandon ship )
– Sijil pencagahan pencemaran minyak
– Sijil-sijil keadaan darurat umum

12. Apakah muatan harus dilasing (diikat) menurut kodifikasi MKI ? Jelaskan 
Jawab :
– Muatan harus dilashing.
– Menurut kodifikasi MKI appendix 4 dalam melakukan persiapan berayar, muatan kapal, palka, dan semua bukaan dibadan kapal harus dilashing agar barang-barang tersebut tidak berpindah tempat, jatuh, rusak dan dapat membahayakan keselamatan kapal.

13. Bisakah suatu kapal mendapat sertifikat Manajemen system (SMS) / (SMC), sedangkan perusahaanya belum punya DP (Dokumen Pemenuhan)

Jawab :
– Tidak bisa

14. Apakah pelatihan pembiasaan (familiarization) di kapal merupakan tanggung jawab perusahaan atau Nakhoda ? Jelaskan !
Jawab :
– ISM Code elemen 6 : Mengharuskan perusahaan membuat serta mengidentifikasikan pelatihan dan familirisation untuk menunjan ISM di implementasikan dengan baik dan,
-ISM Code elemen 7 : Perusahaan harus menyusun prosedur-prosedur situasi darurat dan program latihan meliputi fire, collision dan sebagainya
– Berdasarkan elemen tersebut diatas berarti tanggung jawab perusahaan untuk mengadakan pelatihan ( familiarization )

15. Bukti Objective apakah yang diharapkan Auditor bahwa elemen 8 ISM Code diterapkan?
Jawab :
Elemen 8 : Kesiapan keadaan darurat.
a. Perusahaan harus menetapkan prosedur untuk mengidentifikasi keadaan darurat yang tertuang dalam buku manual ( emergency respons manual )
b. Perusahaan harus menetapkan program-program latihan, pelaksanaan latihan tindakan keadaan darurat ( drill schedule )
c. Sistim manajemen keselamatan membuat setiap tindakan mejamin bahwa perusahaan dapat memberi reaksi terhadap bahaya-bahaya, kecelakaan dan situasi darurat dari kapal ( emergency response team )

Sumber

 
Leave a comment

Posted by on July 15, 2013 in Prosedur

 

Tags: ,

Perilaku manusia dalam berbisnis (kisah yg dialami penulis)

Sambil menunggu liga champion, saya sempatkan sedikit menulis kisah yg saya alami dalam menjalankan usaha 🙂

Dikelilingi orang yg keliatan taat beragama dalam menjalankan sebuah bisnis pasti akan menimbulkan kepercayaan yg lebih dikarenakan kebiasaan rekan bisnis yg taat beribadah. Tapi beriring waktu dari analisa saya, tidak ada manusia yg bener menjalankan usaha yg sesuai dengan syariat agamanya (penulis mengalami)

Salah satu rekanan, dari segi ibadah kuat dan selalu menjalankan sesuai dengan aturan yg dianutnya, tetapi taktik berbisnis, komitmen, dan tata perilaku kadang berlawanan dgn ajaran yang dia anut walaupun tidak setiap waktu. Yang awalnya saya salut dgn perilaku ibadahnya akhirnya merasa down jg dgn melihat perilaku berbisnisnya berlawanan dgn ajaran yg dia anut, entah ajaran itu sebagai pencari sensasi saja atau memang dari hatinya sendiri, hanya Tuhan yg tahu, kita manusia tidak luput dari ketidak sempurnaan.. :d

Semoga kita semua dapat berperilaku seperti manusia sebenarnya.

Salam. #sambil tuker chanel RCTI siaran liga champion.

 
Leave a comment

Posted by on April 10, 2013 in ini cerita ku, mana cerita mu

 

Tags: , , ,

Tegar !

“Bila anda gagal hari ini, jangan pernah menyerah. Ulangi terus kegagalan anda sampai boss anda menyerah” (Mario Tegar)

 
Leave a comment

Posted by on November 27, 2012 in ini cerita ku, mana cerita mu